Apa Itu High Rise Building? Karakteristik dan Contohnya

editor's picture

Pernahkah Anda melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat bangunan-bangunan itu begitu istimewa? 

Atau mungkin Anda penasaran dengan teknologi dan perencanaan yang diperlukan untuk membangun struktur setinggi itu? 

Artikel ini akan mengupas tuntas tentang high rise building, mulai dari pengertian, karakteristik, hingga contoh-contoh bangunan ikonik di seluruh dunia.

Apa Itu High Rise Building?

high rise building - pacific place

High rise building merujuk pada gedung yang memiliki banyak lantai dan umumnya lebih tinggi dari gedung biasa. Menurut Massachusetts General Laws, sebuah gedung dianggap sebagai high rise jika memiliki ketinggian lebih dari 70 kaki atau sekitar 21 meter. Di sisi lain, banyak insinyur dan arsitek yang menyebutkan bahwa gedung bertingkat tinggi harus memiliki ketinggian minimal 75 kaki atau sekitar 23 meter.

Biasanya, gedung-gedung ini dibangun di daerah perkotaan yang padat penduduk atau kawasan komersial yang membutuhkan ruang lebih banyak dengan lahan terbatas.

Karakteristik High Rise Building

Gedung bertingkat tinggi memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari jenis bangunan lainnya. Berikut adalah beberapa ciri utama dari high rise building:

Tinggi Bangunan

Umumnya, ketinggian pada bangunan bertingkat tinggi (high rise building) berkisar antara 75 hingga 100 kaki, atau sekitar 23 hingga 30 meter.

Luas Lantai

Karakteristik berikutnya adalah luas lantai minimal 750 m² dan maksimal 1500 m². Gedung-gedung ini sering kali dibangun di area perkotaan, di mana terbatasnya lahan mendorong penggunaan ruang vertikal untuk memperluas fungsinya.

Orientasi Bangunan

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, orientasi fisik pada bangunan tinggi umumnya vertikal. Hal ini berarti bangunan dibangun ke atas secara langsung. Meskipun banyak bangunan yang memiliki desain unik, struktur inti tetap dibangun dengan orientasi vertikal.

Penerapan Sistem Aerodinamika

Bangunan tinggi sering kali mengadopsi prinsip aerodinamika karena kaitannya dengan pergerakan angin. Sistem ini digunakan untuk mengurangi dampak guncangan akibat angin atau gempa. Dengan sistem aerodinamika, beban angin dapat diminimalkan, meningkatkan stabilitas gedung.

Struktur Bangunan

Penggunaan struktur bangunan yang kokoh dan sesuai dengan standar yang berlaku sangat penting untuk mengurangi risiko kecelakaan selama operasional gedung. Dengan struktur yang tepat, bangunan dapat menahan beban dengan kuat dan tidak mudah roboh. Terdapat tiga jenis struktur yang umum digunakan pada gedung bertingkat tinggi (high rise building), yaitu flat slab, bearing wall system, dan open frame.

Flat slab adalah struktur yang menggunakan pelat beton sebagai tempat untuk menempelkan kerangka bangunan. Bearing wall system adalah sistem yang memanfaatkan dinding sebagai penopang beban bangunan. Sedangkan open frame adalah struktur yang mengkombinasikan balok dan kolom, yang membentuk sambungan yang mampu menahan beban dari bangunan.

Risiko

Saat membangun high rise building, penting untuk mempertimbangkan berbagai risiko yang mungkin terjadi, seperti gempa bumi, angin topan, banjir, dan bencana alam lainnya. Ancaman ini dapat diperburuk oleh tekanan angin dan beban struktural gedung, serta elemen bangunan yang kurang elastis karena beratnya konstruksi dan penempatan perabotan seperti kaca jendela.

Contoh High Rise Building

Di Indonesia, banyak bangunan bertingkat tinggi (high rise building) yang tidak masuk kategori gedung pencakar langit (skyscraper) tetapi tetap berfungsi sebagai pusat aktivitas bisnis, hunian, dan komersial di perkotaan. Berikut adalah beberapa contoh high rise building di Indonesia yang terkenal:

Wisma 46, Jakarta

Dengan tinggi sekitar 262 meter dan 48 lantai, Wisma 46 masih dikategorikan sebagai high rise building yang berfungsi sebagai perkantoran. Gedung ini merupakan salah satu ikon di kawasan pusat bisnis Jakarta meski tidak setinggi gedung pencakar langit internasional.

Menara BCA, Jakarta

Menara BCA yang berada di kawasan Thamrin ini memiliki sekitar 56 lantai, namun masih dikategorikan sebagai high rise building dibanding gedung pencakar langit. Gedung ini berfungsi sebagai kantor utama BCA dan terhubung dengan pusat perbelanjaan Grand Indonesia.

Menara Palma, Jakarta

Menara Palma, yang berlokasi di Kuningan, Jakarta Selatan, memiliki sekitar 30 lantai dan digunakan untuk perkantoran. Gedung ini juga memiliki berbagai fasilitas bisnis serta akses ke pusat perbelanjaan.

Kesimpulan

High rise building merupakan solusi bagi kebutuhan ruang di kota besar dengan lahan terbatas. Dengan karakteristik seperti ketinggian yang luar biasa, struktur yang kokoh, dan fasilitas modern, gedung-gedung ini mendukung kegiatan hunian dan komersial yang efisien.

Tingkatkan Kualitas Proyek Anda dengan Cigading Habeam!

Dapatkan solusi konstruksi terbaik dengan bahan berkualitas tinggi yang dapat memperkuat struktur bangunan atau gedung bertingkat tinggi Anda. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi lebih lanjut dan mulailah mewujudkan bangunan impian Anda dengan Cigading Habeam!